Muhammad Syahrur

A. Pendahuluan

Muhammad Syahrur dilahirkan di Damaskus, Syiria, pada tanggal 11 April 1938. Pendidikan dasar dan menengah di tempuh di sekolah-sekolah di Damaskus hingga pada tahun 1957, ia memperoleh ijazah kelulusan dari sekolah ‘Abd al-Rahman al-Kawakibi. Pada Bulan Maret 1958 ia dikirim oleh pemerintah ke Moskow untuk belajar arsitektur (teknik). Kemudian ia pun berhasil meraih gelar diploma dalam bidang teknik sipil. Setahun kemudian ia ditunjuk sebagai asisten dosen pada fakultas teknik sipil di Universitas Damaskus. Gelar magister dan doktornya diperoleh di Universitas Nasional Irlandia, masing-masing pada Tahun 1968 dan 1972 dengan spesialisasi di bidang teknik sipil, khususnya mekanika tanah dan bangunan tanah.

Pada tahun 1972 itu juga ia diangkat sebagai pengajar pada fakultas teknik sipil Universitas Damaskus dengan spesialisasi di bidang mekanika tanah dan bangunan tanah sampai sekarang. Di samping mengajar, bersama teman-temannya ia juga mendirikan sebuah kantor yang khusus menangani teknik (arsitektur) pada tahun 1972 dan di beri nama Dar al-Isytisyaretika at al-Handasiyah. Syahrur sangat menguasai bahasa Inggris dan Rusia. Sementara ia pun mempunyai minat yang besar terhadap filsafat dan fiqh al-lugah (gilologi, ilmu bahasa). Ketiga bidang keilmuan tersebut, kemudian mendasari pemikirannya.

Di samping buku-buku tentang teknik bangunan, Syahrur juga menulis beberapa buah buku yang memuat ide-idenya tentang kontekstualisasi pemahaman terhadap al Qur’an dan as Sunnah ataupun ajaran Islam secara lebih umum. Di antara buku-buku tersebut yaitu: al Kitab wa al Qur’an: Qira’ah mu’asirah (1990) dan al Islam wa al Iman: Manzumah al Qiyam 1996.

Buku yang pertama ini adalah fenomenal, sebab di satu sisi dinyatakan sebagai the bestseller book di Timur Tengah, dan di sisi lain, buku ini memiliki watak kontroversial, melahirkan sikap pro dan kontra. Nama-nama seperti Wahhab al-Zuhaili, Salim al-Jabi, Thahir al-Syawwaf, dan Khalid al-Akk adalah di antara mereka yang kontra terhadap buku itu.

Sebaliknya orientalis seperti: Wael B. Hallaq dan Dale F. Eickelman adalah diantara mereka yang pro dan menunjukkan dukungan terhadapnya. Dualisme penilaian ini ternyata tidak hanya bergema di tingkat individual, tetapi juga membawa implikasi di tingkat kenegaraan. Pemerintah-pemerintah seperti Saudi Arabia, Mesir, Qatar, dan Uni Emirat Arab, secara keras melarang peredaran buku itu ke negaranya. Tetapi di fihak lain, Sultan Qaboos di Oman, malah memberikan penilaian yang positif, sampai ia membagi-bagikan buku itu kepada menterinya, dan merekomendasikan mereka untuk membacanya. Buku inilah sebenarnya yang telah membuat namanya melejit dalam kancah pemikiran keagamaan. Renungan dalam buku ini ternyata tidak tanggung-tanggung, sebab ditulisnya dalam waktu yang cukup lama, 20 tahun.

Makalah selengkapnya dapat anda Download DISINI, Semoga bermanfaat and jangan lupa di-Comment yah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: