Muhammad ‘Abid Al-Jabiri

A. Pendahuluan

Empat dekade terakhir ini merupakan periode sangat krusial dalam sejarah pemikiran Islam. Karena dalam rentang waktu empat puluh tahun inilah sebuah tren pemikiran dan kesarjanaan Islam baru telah muncul di tengah-tengah masyarakat Muslim. Perkembangan ini ditandai dengan menjamurnya karya-karya akademis dan intelektual yang secara radikal menyikapi warisan budaya dan intelektual Islam. Sulit untuk menafikan bahwa tren ini sangat kuat sekali di pengaruhi oleh apa yang sedang berkembang di dunia filsafat, ilmu-ilmu sosial dan humaniora di Barat. Para advokator pemikiran ini banyak mengadopsi teori kritik, dalam berbagai bentuk ekpresi dan representasinya, mulai dari Hegel hingga Karl Marx dan terus turun hingga ke Hannah Ardent, Max Horkheimer dan Jurgen Habermas, yang dianggap sebagai kekuatan sentral dalam tradisi kritik Barat.

Bermodalkan dengan perangkat filsafat dan metodologi inilah, para sarjana pendukung gerakan intelektual ini mendekonstruksi hampir kesulurahan bangunan ilmu yang telah dihasilkan oleh para pemikir dan ulama masa silam seperti Tafsir, Fiqh dan Usul Fiqh, Ilmu Hadits, Teologi, Kalam dan sebagainya. Hal ini dilakukan karena ada anggapan, yang sesungguhnya masih perlu di buktikan, bahwa kemunduran dan keterpurukan masyarakat Arab dan Muslim pada hari ini disebabkan oleh kuatnya cengkraman pola pikir tradisi masa lampau pada masyarakat hari ini

Salah satu tokoh yang mengusung isu dekonstruksi epistemologi Islam adalah Abid al-Jabiri. Para tokoh Islam liberal di Indonesia acapkali mengutip pendapat beliau dalam menguatkan argumentasi mereka, walaupun para liberalis di Arab tidak se-ekstrim tokoh-tokoh Jil di Indonesia karena mereka tidak menyinggung wilayah sensitif keagamaan, seperti Al Qur’an, syari’at, tetapi mereka hanya masuk lewat pintu turats.

Muhammad Abid Al-Jabiri adalah pemikir yang masyhur dengan kritik-kritiknya terhadap realitas dunia Islam. Kritik akal Arab (Naqd al-Aqli al-Arabi) adalah trade mark yang melembari ciri kekritisannya. Sebagai seorang filosof, al-Jabiri sangat mengagungkan kemampuan akal. Kritik akal Arab yang dilontarkan al-Jabiri didasari atas keprihatinannya terhadap realitas yang menimpa dunia Islam yang menurut pengamatannya direpresentasikan oleh bangsa Arab.

Ia berpendapat, untuk melakukan kajian kritik dengan benar, haruslah bertolak dari kesadaran sang ego (al-Ana) yang substansial sebelum melakukan eliminasi terhadap yang lain, baik yang dinisbatkan kepada legasi masa lampau maupun yang berasal dari Barat.

Makalah selengkapnya dapat anda Download DISINI, Semoga bermanfaat and jangan lupa di-Comment yah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: