Tasyri’ Islam di Tanah Jawa

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sejarah tidak akan pernah kering dari beragam cerita dan peristiwa. Ia telah melahirkan ribuan karya dan jutaan manusia yang secara menawan telah mencoba melakukan kajian kesejarahan terhadap legislasi dan yurisprudensi dalam Islam. Mereka memiliki asumsi bahwa dinamika pemikiran Islam senantiasa menyediakan “lahan kosong” untuk perlu terus digarap agar khazanah keilmuan Islam senantiasa bisa berkembangan dan kembali memancarkan cahaya kejayaannya.

Salah satu unsur penting dalam Islam yang sarat akan khazanah keilmuan adalah fiqih atau Yurisprudensi. Bagaimana tidak, fiqh dengan karakter dasarnya yang elastis, dinamis dan fleksibel, akan senantiasa bergerak seiring dengan terus berkembangnya pola kehidupan umat manusia. Ini tidak terlepas dari makna dari fiqh itu sendiri, yaitu sekumpulan aturan agama yang digali dari sumber-sumbernya untuk kemudian diwujudkan secara kongkrit dalam prilaku hidup sehari-hari. Maka, ketika kehidupan meniscayakan adanya sebuah perubahan, fiqh pun tidak bisa menolaknya. Kecenderungan fiqih yang selalu berkembang ini memacu para ahli (Ulama) untuk terus berfikir dan berkarya agar tatanan hidup umat manusia bisa senantiasa harmonis dan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta.

Menelusuri sejarah penerapan syariat Islam di tanah jawa, bagai mengurai benang kusut yang tercampuri debu dan potongan-potongan benang menyesatkan. Para peneliti dituntut kemampuan memilah mana yang fakta sejarah dan mana yang opini sejarah. Belum lagi banyaknya mitos yang tampaknya sengaja ditaburkan untuk mengaburkan makna penerapan syariat Islam yang sesungguhnya.

Pada dasarnya, fiqh dengan karakter sebagaimana dimaksud di atas, merupakan sekumpulan aturan agama (syari’at) yang mencakup berbagai dimensi kehidupan manusia seperti, aqidah, ekonomi, sosial, politik, tata perundang-undangan dan lain sebagainya. Namun, dimensi fiqh yang demikian luas ini ternyata sering pengalami “pengkerdilan makna”. Di mana ia dipersempit cakupannya seolah hanya mengatur masalah peribadatan yang bersifat ritual-simbolik serta hubungan antar manusia (muamalat) secara sempit. Hal ini mendapat kritik serius dari beberapa Ulama seperti Manna’ al-Qatthan dan beberapa ulama lainya, serta tidak bisa dibenarkan ketika seseorang ingin melakukan eksplorasi mendalam terhadap fiqh. Selain itu, ia –Manna’ al-Qatthan – juga menegaskan adanya perbedaan yang prinsipil antara aturan hidup dalam Islam (syariat) dengan aturan hidup yang ada pada agama lain, begitu pula ada perbedaan yang mendasar antara syariat Islam dengan tata perundang-undangan dalam sistem hukum positif.

Dalam Islam, syari’at merupakan aturan hidup yang bersifat samawi (transenden) dan ardli (membumi) sekaligus. Artinya, peran Tuhan dalam pembentukannya sangat menentukan. Di samping juga dialektika-progressif (bukan istilah akademik) antara syari’at dengan problem sosial di sekitarnya juga turut berperan dalam proses pembentukannya. Oleh karena itu, tidak salah jika syariat Islam juga sering disebut sebagai hukum yang bersifat kewahyuan (revelation law).

Opini-opini sejarah yang berasal dari para penulis sejarah non muslim kebanyakan beranjak dari persepsi mereka yang keliru tentang Islam. Apalagi bila opini tersebut berasal dari orang-orang yang sengaja disusupkan penjajah untuk memberikan rekomendasi yang dapat menghancurkan Islam dari dalam. Sebagai contoh, keharusan berhati-hati ketika mengambil pendapat Snouck Hugronje yang disusupkan kafir penjajah Belanda untuk mempelajari cara yang paling tepat menghentikan perjuangan dan perlawanan umat Islam.

Mitos juga banyak dikembangkan untuk memalingkan umat Islam dari perjuangan penerapan Islam yang sesungguhnya. Mitos-mitos yang menyelimuti Wali Songo banyak ditanamkan melalui kisah-kisah di kalangan masyarakat Jawa. Sisi bahwa Wali Songo yang sesungguhnya adalah para dai ulama utusan kesultanankesultanan di seluruh penjuru Khilafah Islamiyah untuk menata dakwah di tanah Jawa serta memperjuangkan penerapan syariat Islam dalam bentuk kesultanan-kesultanan Islam, menjadi lembaran sejarah yang hilang di kalangan masyarakat Jawa. Yang banyak diangkat untuk menghapus dan menyimpangkan perjuangan para wali adalah mitos-mitos yang bahkan tercampuri dengan bid’ah, syirik dan khurafat.

Menelusuri jejak penerapan syariat Islam di tanah jawa, adalah menata fakta-fakta sejarah dan menarik benang merahnya dengan Khilafah Islamiyah yang saat itu menjadi payung besar pelindung kaum muslimin dan negara nomor satu di dunia tanpa pesaing. Para peneliti harus berhati-hati dan memiliki gambaran utuh terhadap pemikiran-pemikiran Islam, metode penegakannya, sejarah penerapannya dalam bentuk Daulah Khilafah Islamiyah, dan  bagaimana bentuk sistem pemerintahannya. Mereka juga harus memahami bagaimana Rasulullah saw. memperjuangkan Islam pertama kali, membangun institusi negara Islam di Madinah, dan menyebarkannya ke seluruh Jazirah Arab; bagaimana para khalifah, dan para gubernurnya menyebarkan Islam dan meluaskan wilayah Negara Islam. Mereka juga harus memiliki kerangka ideologis Islam yang mampu memberikan gambaran bagaimana Islam dengan mudah diterima oleh masyarakat jawa dengan jalan mengubah cara berfikir masyarakat dan ahlu quwwahnya, dan berkembang secara pesat ke seluruh penjuru nusantara.

Kaum muslimin di tanah jawa khususnya dan kaum muslimin di Indonesia pada umumnya, adalah cucu-cucu keturunan para da’i ulama dari poros Khilafah Islamiyah, keturunan para sultan pemberani yang dengan kekuatan aqidahnya mampu mengganti sistem kerajaan Hindu-Budha menjadi kesultanan Islam yang mulia, anak cucu Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanudin, Tuanku Imam Bonjol, dan para pejuang pembela Islam mulai dari Sabang hingga merauke yang bahagia gugur sebagai syuhada. Semoga doa dan harapan para ulama dan pejuang terdahulu mulai tumbuh, bersemi dan terkabul pada generasi saat ini.
Dari sini, penulis mencoba menyusun makalah ini berdasarkan data-data yang diperoleh pada setiap periode sejarah terhadap fenomena perjuangan tasyri’ islam yang ada di tanah Jawa. Tentunya, dalam makalah ini, segala data yang berhubungan dengan  perkembangan tasyri’ (legislasi) dan fiqh (yurisprudensi) Islam. Upaya ini akhirnya menghasilkan sebuah kajian kesejarahan yang disusun secara periodik dan sistematis.

1.2  Rumusan Masalah.
Berdasarkan pada pemikiran di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan makalah adalah :
1)    Bagaimana proses penyebaran syari’at islam ke tanah Jawa?
2)    Siapakah Walisongo dan Bagaimana Pembentukan Misitisisme Islam Jawa?
3)    Bagaimana Mekanisme Dakwah Walisanga?
4)    Bagaimana Karakteristik Islam Kejawen?

Selengkapnya anda bisa MENDOWNLOAD filenya dengan berbentuk Word secara GRATIIIIS.. Semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: